Gencarkan Edukasi Penanganan Stunting hingga Morotai Jaya melalui Kegiatan SINEMATIKA

28-11-2025 Umum Dilihat 165 kali

Pulau Morotai – Rabu (26/11/2025), Loka POM di Kabupaten Pulau Morotai melaksanakan kegiatan Inovasi Layanan SINEMATIKA (Informasi dan Pengujian Keamanan Kosmetik dan Pangan) di Desa Bere-Bere Kecil Kec. Morotai Jaya. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait penanganan stunting yang berhubungan dengan keamanan pangan.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Pertama, Irfandi Amiruddin, memaparkan salah satu penyebab stunting yakni kekurangan asupan gizi yang terjadi secara kronis khususnya pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (dihitung sejak kehamilan hingga anak berusia 2 tahun). “1000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode emas pertumbuhan anak sehingga harus mengkonsumsi pangan aman, mengandung protein hewani, dan bergizi seimbang,” jelasnya.

Khairunnisa selaku Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Pertama menekankan pentingnya menjadi konsumen cerdas dalam memilih Obat dan Makanan dengan selalu ingat CEK KLIK. “Selain cek kondisi Kemasan tidak rusak, penyok, menggelembung, atau terbuka, biasakan periksa apakah label mencantumkan informasi penting seperti nama produk, komposisi, nama produsen, nomor izin edar, kode produksi, dan tanggal kedaluwarsa, pastikan produk memiliki nomor izin edar dari BPOM yang ditulis kode MD/ML dan diikuti 15 digit nomor, serta tanggal kedaluwarsa harus ada pada kemasan produk dan tidak melewati batas tanggalnya,” tegasnya

Sementara itu, Widyas Kusuma Mursid, selaku Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Pertama mengimbau untuk tidak menambahkan bahan-bahan yang memang tidak diperuntukkan sebagai campuran pada makanan seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan methanil yellow. “Bahan berbahaya seperti boraks sering disalahgunakan pada bakso, cilok, dan otak-otak sedangkan formalin sering disalahgunakan pada ikan, ayam, tahu, dan mie basah, serta pewarna yang seharusnya tidak untuk makanan yakni rhodamin B dan Methanil Yellow karena sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kerusakan organ dalam tubuh bahkan kematian,” pungkasnya.

Selain itu, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Pertama, Mar’atus Soleha, menyampaikan tentang bahaya penggunaan antibiotik tanpa resep dokter karena dapat menyebabkan resistensi antimikroba dimana kondisi ketika bakteri yang menyebabkan penyakit menjadi kebal terhadap antibiotik. “Penggunaan antibiotik harus diawasi oleh tenaga kesehatan untuk mencegah resistensi dan efek samping yang berbahaya. Oleh karena itu, apabila sakit segera periksa ke Puskesmas terdekat agar mendapatkan penanganan dan obat yang tepat,” tegasnya.

Selain memberikan edukasi terkait makanan aman, petugas Loka POM di Kab. Pulau Morotai juga melakukan pengujian keamanan pangan yang dijual oleh pelaku usaha seperti pentol, tahu pentol, dan es dung-dung dengan parameter uji Boraks, Formalin, dan Rhodamin B. Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa produk yang beredar tidak mengandung bahan-bahan berbahaya sehingga aman dikonsumsi oleh masyarakat.

Melalui kegiatan SINEMATIKA diharapkan masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Morotai Jaya dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat yang berisiko stunting, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya pencegahan stunting diantaranya melalui praktik keamanan pangan dan konsumsi pangan bermutu dan bergizi. Upaya ini juga diharapkan dapat mendorong keterlibatan aktif keluarga dan komunitas dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (AAD)

 

Sarana